17 Oktober 2017

Mahasiswa PGSD STKIP Muhammadiyah Sorong Lestarikan Tarian Tradisional Raja Ampat

Tarian Tradisional "Lao-Lao" dari Daerah Raja Ampat

STKIPMSorongNews | Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan kebudayaan dari mulai tarian , musik, adat, bahasa, dan lain sebagainya. Kita seharusnya bangga, dengan ini kita bisa menarik peminat turis asing yang pergi ke Indonesia. Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan yang tidak bisa diragukan lagi dari mulai dari bahasa, adat, tarian musik dan lain sebagainya. Bangsa kita juga memiliki kurang lebih 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan ratusan tarian adat. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang harus kita syukuri dan lestarikan. Dengan keanekaragaman kebudayaannya, Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.

STKIP Muhammadiyah Sorong adalah salah satu Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Kawasan Timur Indonesia, sebagai upaya turut melestarikan dan menjaga kekayaan budaya Indonesia, sehingga Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Muhammadiyah Sorong secara rutin telah mengajarkan berbagai jenis tarian kepada mahasiswanya yang dikemas dalam Mata Kuliah wajib “seni tari dan drama”. Dari berbagai jenis Tarian tradisional yang diajarkan, ternyata Tarian Tradisional dari daerah Raja Ampat yang sangat diminati dan berkembang.

Sebut saja Tarian “Lao-Lao” adalah tarian berasal dari daerah Raja Ampat, yang mempunyai filosofi bahwa tarian tersebut menggambarkan masyarakat Raja Ampat saat Berburu hewan Lao-Lao. Tarian tersebut saat ini sangat terkenal di daerah Raja Ampat, sejak ditampilkan saat Sail Raja Ampat 2014 lalu.

Tabita Adonia Rumbarak, mahasiswa prodi PGSD yang berasal dari daerah Raja Ampat, dirinya sangat senang bisa kuliah di STKIP Muhammadiyah Sorong, karena selain mendapat ilmu pendidikan tetapi dia juga mendapatkan skill yang memang sudah ditekuni sejak masih duduk di bangku SMP di Raja Ampat yaitu menari tradisional. Tabita adalah mahasiswa angkatan 4 (empat) pada Prodi PGSD, saat ini sudah masuk di semester 3 (tiga). Hampir di setiap acara penyambutan Tamu-tamu di STKIP Muhammadiyah Sorong, baik tamu domestik maupun tamu dari mancanegara dirinya selalu tampil membawakan tarian Lao-Lao tersebut bersama 9 rekannya, sehingga saat ini tarian tersebut semakin dikenal oleh dunia. Ketika ditanya mengenai perkembanga tarian tradisional di daerah dirinya menjawab bahwa saat ini sudah yang sudah melupakan tarian-tarian tradisional.

“sekarang teman-teman su banyak yang tarakenal lagi deng tarian-tarian ini mooh, sa juga heran padahal tarian tradisional itukan kekayaan daerah kita toh, mereka su lebih senang deng tarian-tarian modern yang taratau depu asal” jelas Tabita menggunakan logat bahasa lokalnya.

 (saat ini sudah banyak teman-temanya yang tidak kenal lagi dengan tarian-tarian tradisional, dirinya juga heran tidak tau mengapa padahal tarian tradisional itu kan merupakan kekayaan daerah kita, kebanyakan teman-temannya saat ini lebih senang dengan tarian-tarian modern yang tidak tahu asalnya darimana)

Tabita juga menyampaikann harapanya terhadap tarian tradisional ini, bahwa dirinya sangat berharap kepada masyakat luas khususnya para mahasiswa dan pelajar, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar artinya kita harus bisa memilih dan menyaring mana yang lebih baik dan positif untuk kita ikuti. Bukan sekedar ingin mengikuti tren yang sudah ada tanpa memfilter terlebih dahulu. Sudah saatnya kita kembangkan dan lestarikan kembali tarian tradisional yang sudah mulai tertutupi oleh tarian modern, karena bagaimanapun itu adalah hasil cipta karya bangsa kita. (ds).

Kampus biru, Aksi mahasiswa, Universitas pendidikan muhammadiyah